Nyamuk Kecil Bisa Menyebabkan Kematian, Benarkah?

Mata Murti Ningsih (29) memicing, cahaya senter yang digenggamnya diarahkan ke dalam gentong plastik di belakang rumah Syaiful (56). Bekas pot bunga dan kolam kecil pun tak luput dari incarannya. Sejenak berlalu, dia tersenyum sambil mengacungkan ibu jari kanannya. "Di sini enggak ada jentik, adanya jempol."

Sabtu (29/10) sore, petugas surveilans demam berdarah dengue (DBD) Dinas Kesehatan Kota Semarang, Jawa Tengah, itu, mencari jentik nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus di permukiman warga Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari.

Selain survei rutin, penelusuran jentik jadi bagian penegakan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Pengendalian Penyebaran DBD.

Sejak perda DBD diberlakukan, Murti mengaku tugasnya kian ringan. Sebab, ketua RT dan RW terpacu menggalakkan pemantauan jentik nyamuk serta mendorong kegiatan menguras, mengubur, dan menimbun untuk menekan kasus DBD.

Bagi Syaiful, acungan jempol dari Murti bermakna. Setahun lalu, Anissa (12), putri bungsunya, dirawat inap tiga pekan di rumah sakit akibat terkena DBD. Sejak kejadian itu, Syaiful rajin menguras bak mandi dua kali sepekan dan sukarela jadi kader juru pemantau jentik (jumantik) di lingkungan RT.

Ketua RT 004 RW 006 Kelurahan Sambirejo Setyandani mengatakan, sejak perda DBD diberlakukan, warga lebih getol memberantas sarang nyamuk. "Mungkin karena takut dipenjara," ujarnya sambil terkekeh.

Perda DBD mencantumkan, warga bisa didenda hingga Rp 50 juta atau kurungan tiga bulan jika di rumahnya ditemukan jentik nyamuk.

Jika ada jentik nyamuk di rumah warga, pemilik rumah mendapat teguran tertulis hingga penempelan stiker depan rumah. Jika tiga kali pemeriksaan ditemukan jentik nyamuk, pemilik rumah dikenai sanksi pidana ringan. "Warga mesti takut dua hal soal DBD. Pilih dirawat di rumah sakit atau masuk penjara? Kalau tak mau dua-duanya, mesti rajin berantas sarang nyamuk," kata Setyandani.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Widoyono menjelaskan, penegakan perda baru dimulai tahun 2016 setelah sosialisasi sejak 2011-2015. Seiring gencarnya sosialisasi, jumlah korban jiwa akibat DBD turun.

Pada 2013, ada 2.364 kasus DBD dengan 27 korban jiwa, dan tahun 2015 ada 1.737 kasus dengan 21 korban meninggal.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meminta warga tak menanggapi berlebihan perda itu. Aturan itu bertujuan memacu semangat warga untuk bergerak mencegah penyebaran DBD.

Berbasis masyarakat

Di Mojokerto, pemantauan jentik berbasis masyarakat rutin dilakukan sepanjang tahun. Di kampung Kedundung, Kecamatan Magersari, misalnya, ada 8 orang jumantik di lingkup RT. Petugas mencantumkan hasil pemeriksaan di formulir apakah menemukan jentik nyamuk atau tidak.

Tak ingin jumantik menemukan jentik di rumah, warga jadi lebih rajin membersihkan penampungan air. "Setiap kamis atau hari lain, kaum ibu di sini rajin membersihkan kamar mandi sendiri. Memastikan tak ada jentik," ujar Darini, salah seorang jumantik.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mojokerto C Indah Wahyu menjelaskan, pemeriksaan jentik nyamuk berbasis warga itu lebih efektif mengantisipasi penyebaran DBD. Biayanya pun lebih murah dibandingkan biaya rawat inap di rumah sakit.

Dinas kesehatan setempat menerjunkan petugas pemantau jentik, petugas gizi, dan petugas pemantau sanitasi. Data mereka dibandingkan dengan data dari warga, terutama jika laporan jentik nol, tetapi ada kasus pasien DBD di daerah itu. Hasilnya, Mojokerto pernah meraih penghargaan nasional daerah dengan kejadian DBD terendah dan jadi tempat belajar daerah lain.

Inisiatif pemantauan jentik berbasis warga juga dilakukan di Kelurahan Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali, lewat Gerakan Mandiri Pemantau Jentik. Itu dimulai dari lingkungan Banjar Lantang Bejuh. Di tiap rumah, ada anggota keluarga jadi jumantik untuk memantau jentik dan memberantas sarang nyamuk.

Di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, pemda menggandeng pramuka turut memantau jentik nyamuk sejak 19 November 2013 melalui gerakan bernama Gema Pramantik. Jadi, anggota pramuka memantau rumah sendiri dan empat rumah tetangga. Hasil pantauan dilaporkan ke guru kelas di sekolah dan disampaikan ke pihak kecamatan.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan M Subuh menegaskan, urusan kesehatan tak hanya tanggung jawab pemda. Karena itu, intervensi, terlebih inovasi daerah, dalam pengendalian DBD jadi penting.

0 Response to "Nyamuk Kecil Bisa Menyebabkan Kematian, Benarkah?"

Posting Komentar