Apa Yang Terjadi Pada Forum Internet Dunia?

Partisipasi anak muda Indonesia untuk membela negeri ini di forum internet dunia dinilai masih kurang. Indonesia butuh kalian, wahai anak muda.

Hal itu disuarakan oleh praktisi teknologi informasi Dirgayuza Setiawan yang tengah mewakili Indonesia dalam sebuah forum internet dunia membahas masalah DNS di Hyderabad, India.

DNS atau Domain Name System adalah layanan yang mengelola 'buku alamat' nomor IP dari setiap nama domain Internet. DNS menghubungkan alamat domain semisal www.detikinet.com dengan nomor IP dari server detikINET.

Jika layanan DNS terganggu atau tidak dikelola dengan baik, ada kemungkinan pengguna Internet tidak bisa membuka halaman web yang dituju.

Hari ini lebih dari tiga miliar manusia, dan lebih dari 50% warga negara Indonesia menggunakan Internet. Bisa dibayangkan, jika layanan DNS terganggu, maka banyak usaha besar, usaha kecil, dan layanan pemerintah akan terganggu. Karena itu tata kelola DNS adalah persoalan yang serius.

Saat ini pengelolaan DNS dilakukan oleh ICANN, singkatan dari Internet Corporation for Assigned Names and Numbers. ICANN adalah badan nirlaba berbasis di California yang dikelola secara terbuka menggunakan model multipihak (multistakeholder model). Pengelolaan dengan model multipihak ini memungkinkan siapa saja untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di ICANN.

Pada rapat ICANN ke 57 di Hyderabad, India yang berlangsung sejak 3 November sampai 9 November 2016, suara Indonesia di forum GAC (Governmental Advisory Committee) diwakili oleh peneliti LIPI Ashwin Sasongko Subroto.

Selain Ashwin, turut hadir di Hyderabad peneliti Center for Digital Society UGM Fidya Shabrina dan tentu saja Dirgayuza Setiawan sendiri. Fidya dan Dirgayuza hadir di forum ICANN sebagai bagian dari program NextGen@ICANN, sebuah program khusus pemuda 18-30 tahun yang dikelola langsung oleh ICANN California.

"Semua orang yang menggunakan Internet pasti menggunakan DNS. Karena itu tata kelola DNS sangat penting. Karena DNS ini menyangkut penggunaan bahasa, dan ada kata-kata tertentu yang tata cara penggunaannya dan kepemilikannya patut diperjuangkan oleh pemiliknya, partisipasi dari sebanyak-banyaknya perwakilan umat manusia dari latar belakang yang beragam diperlukan di forum ICANN ini untuk mencegah konflik di masa mendatang

Sebagai bangsa yang kaya akan bahasa dan budaya, seharusnya Indonesia memiliki banyak wakil di forum ICANN. Namun sampai dengan forum ICANN ke 56 di Helsinki bulan Juni 2016 lalu, baru satu orang pemuda Indonesia yang mengikuti program NextGen@ICANN.

"Hari ini di Hyderabad, selain saya juga ada Fidya yang hadir. Artinya partisipasi pemuda Indonesia naik 100%. Harusnya 200%, tapi karena ada masalah visa akhirnya satu orang lagi batal hadir" sesal Dirgayuza.

Dirgayuza menjelaskan, seharusnya minimal perlu ada 10 orang Indonesia yang paham dan berpartisipasi secara berkelanjutan di forum-forum ICANN baik secara fisik atau melalui partisipasi jarak jauh. Jumlah yang banyak diperlukan karena topik yang dibahas cukup banyak, dan diskusi berjalan secara paralel di banyak kelompok kerja berbeda.

"Jika bangsa Indonesia tidak punya perwakilan di sebuah kelompok kerja, otomatis tidak ada yang membela kepentingan bangsa kita di kelompok kerja tersebut. Kita tidak bisa berharap bangsa lain kasihan, dan membela kepentingan kita" jelas Dirgayuza.

Selain menyelenggarakan program NextGen@ICANN, ICANN juga membuka portal belajar ICANN Learn untuk meningkatkan pemahaman masyarakat umum soal tata kelola Internet. Dirgayuza pun menyampaikan harapan agar lebih banyak pemuda dan pemudi Indonesia yang berani belajar, hadir dan membela kepentingan bangsa di forum dunia.

0 Response to "Apa Yang Terjadi Pada Forum Internet Dunia?"

Posting Komentar