Konflik berkepanjangan antar mahasiswa

Konflik berkepanjangan antarmahasiswa dari daerah yang berbeda harus segera diakhiri. Di samping ketegasan aparat kepolisian, tokoh publik dari kedua kelompok harus turun tangan mencari solusi perdamaian.

Masing-masing kelompok menganggap daerahnya yang paling berkuasa dibandingkan daerah yang lain, jadi ini penguatan identitas,” ungkap sosiolog Universitas Hasanuddin M Darwis kepada media, tadi malam. Dia menegaskan, awal persoalan hanya bersifat pribadi, tetapi digiring ke masalah kedaerahan. Jika dipelihara, banyak kepentingan yang bisa bermain di balik konflik itu.

Apalagi, jika sudah tersusupi kepentingan politik lokal di daerah tertentu. “Jadi, pelaku konflik ini hanya segelintir orang, cuma membawa nama daerah. Sangat rawan ditunggangi kepentingan politik, terlebih orang-orang yang tidak senang melihat Sulsel aman,”katanya. Untuk meredakan konflik, dia menyarankan tokoh masyarakat dari daerah yang berseteru duduk bersama mencari jalan keluar. Langkah ini dianggap paling efektif meredam konflik yang bersifat kedaerahan. Jika tidak segera diselesaikan, dia mengkhawatirkan akan melebar pada konflik antaragama.

Keterlibatan daerah dengan agama yang berbeda membuka peluang konflik mengarah ke ranah SARA. Selain pertemuan antartokoh masyarakat, aparat kepolisian juga harus bertindak tegas.Pelakupelaku yang terlibat harus dihukum tanpa melihat asal-usul daerahnya. “Ini kriminal, makanya pelaku harus dihukum sesuai aturan yang berlaku,”ujarnya. Seperti diberitakan sebelumnya, dua kelompok mahasiswa dari Palopo dan Bone terlibat bentrokan di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Informatika (STIMIK) Dipanegara, Jumat (28/10).

Tawuran ini berlanjut dengan aksi sweeping mahasiswa di Bumi Tamalanrea Permai. Selama dua hari konflik, belasan mahasiswa dari kedua kelompok telah menjadi korban. Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Makassar telah menahan ratusan mahasiswa dari kedua kelompok.Puluhan senjata tajam, termasuk senjata rakitan pun turut diamankan. Sembilan di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dijerat Pasal 2 UU No 12/1951 setelah tertangkap membawa senjata tajam. Saat ini tersangka mendekam di sel Polrestabes Makassar.

Sementara itu, ratusan mahasiswa telah dibebaskan setelah berjanji tidak akan terlibat dalam konflik itu. “Jadi, beberapa mahasiswa telah kami tetapkan sebagai tersangka karena terbukti membawa senjata tajam, sementara ratusan mahasiswa telah kami lepaskan,” ungkap Kasat Reserse dan Kriminal Polrestabes Makassar AKBP Himawan Sugeha,tadi malam.

Serang Rumah Jaksa, 13 Mahasiswa Ditangkap

Dua buah rumah di BTN Nusa Tamalanrea Indah (NTI), Jalan Rambutan,diserang belasan mahasiswa,dini hari kemarin.Mereka menyerang dengan bom molotov dan batu. Akibatnya, rumah milik jaksa yang bertugas di Bone itu rusak parah. Mahasiswa pun berusaha masuk ke dalam rumah.Penghuni rumah pun disekap. Namun, saat berada di dalam rumah, aparat Polrestabes Makassar mengepung.

Mahasiswa yang berada di dalam rumah langsung dibekuk dan dibawa ke Polrestabes Makassar. Kepala Bagian Operasional Polrestabes Makassar AKBP Hotman Surait menegaskan, belum mengetahui motif penyerangan. Namun, dia menduga penyerangan terhadap jaksa yang bertugas di Bone merupakan rentetan konflik dua kelompok mahasiswa yang berseteru. “Ke-13 mahasiswa kami tangkap, sebuah senjata rakitan dan lima parang diamankan,” katanya.

Hotman kembali mengimbau mahasiswa jangan cepat terprovokasi isu-isu yang tidak jelas kebenarannya. Apalagi, masalah yang mengawali konflik hanya persoalan pribadi yang melebar ke persoalan kelompok. “Mahasiswa jangan cepat terpancinglah dan bisa menahan diri, tuturnya.

0 Response to "Konflik berkepanjangan antar mahasiswa"

Posting Komentar